Kandungan Islam
Berdasarkan cakupan global isi kandungan Al-Qur’an dan hadits, Islam sesungguhnya memiliki tiga bagian pokok yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Ketiga bagian tersebut adalah Akidah, Akhlak dan Fiqih. Akidah mengandung pemahaman tentang Tauhid atau ketuhanan. Sementara akhlak merupakan implementasi perbuatan baik yang nyata dalam kehidupan. Sedangkan Fiqih merupakan rambu-rambu yang memandu dan membimbing seseorang dalam memahami dan menjalankan rukun Islam termasuk ibadah-ibadah lain yang mahdah maupun ghairu mahdah.
Berdasarkan hadits Rasulullah SAW ketika berdialog dengan malaikat Jibril dijelaskan bahwa agama Islam secara utuh terdiri dari tiga pilar utama yaitu iman, Islam dan Ihsan. Ulasan tentang pilar iman dikaji secara lebih mendalam melalui disiplin ilmu Tauhid. Sedangkan pilar Islam dikaji melalui ilmu Fiqh. Sementara tentang pilar Ihsan penjelasan dan kajiannya secara lebih mendalam kita dapatkan melalui ilmu Tasawuf.
Dalam Tasawuf ada metode pelaksanaan yang lebih khusus termasuk berkaitan dengan teknis pengamalannya. Motode inilah yang disebut dengan thariqat. Bahwa di dalam thariqat dipelajari tentang bagaimana implementasi sekaligus penghayatan terhadap ilmu Tauhid, Fiqih dan Tasawuf.
Sumber Ajaran Thariqat
Thariqat tentu merupakan bahagian yang ada di dalam Islam. Thariqat adalah cara atau metode yang dilakukan untuk menggapai Tauhid dan memurnikan akidah.
Tidak diragukan lagi bahwa sumber ajaran Tarekat adalah Islam, karena unsur-unsur yang membentuknya berasal dari sumber-sumber Islam, yaitu Al Qur’an dan Al Hadis, kehidupan Rasulullah SAW dan kehidupan khulafaur rasyidin. Allah SWT berfirman:
“Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas tarekat itu, benar benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)”.(Q.S. Al Jin:16)
Sementara itu terdapat banyak dalil hadits berkenaan dengan thariqat diantaranya Sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:
Aku tinggalkan untuk kamu dua pusaka, yaitu Al Mahajjah (syareat) dan Al Thariqatul baidhai (tarekat yang putih bersih).” Thariqat Menjunjung Tinggi Syariat dan Akhlak
Menurut Syekh Amin Al-Kurdi penulis Kitab Tanwirul Qulub yang selalu menjadi rujukan di kalangan thariqat dan tasawuf, menyatakan bahwa Thariqat ialah cara mengamalkan syariat dan menghayati inti syariat itu dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa melalaikan pelaksanaan dan inti serta tujuan syariat.
Selanjutnya beliau menjelaskan, thariqat itu berarti menjauhkan diri dari segala yang dilarang syara’, zahir maupun batin dan mengikuti segala perintah dari Allah yang diusahakan dengan sekuat tenaga yang ada pada masing-masing kita. Dapat juga dikatakan thariqat itu menjauhkan segala yang haram, segala yang makruh dan segala yang mubah tapi tidak berfaedah serta menunaikan segala kewajiban fardlu dan bersungguh-sungguh sekuat tenaga menunaikan segala sunat-sunat, sesuai dengan petunjuk/perintah serta pengawasan dari seorang yang arif (syekh Mursyid yang telah mencapai tingkat yang tinggi.
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa thariqat berada dalam Islam. Apakah mungkin thariqat itu berada di luar Islam? Tentu tidak mungkin thariqat berada di luar Islam karena thariqat tidak dapat terpisahkan dari Islam, kalaulah ada hal-hal yang di luar Islam pastilah itu bukan thariqat. Oleh karena itu, apa yang menjadi kewajiban dalam Islam secara otomatis merupakan kewajiban pula bagi para pengamal thariqat. Sebaliknya, tidak ada dispensasi dalam thariqat untuk melanggar segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam Islam.
Intinya apa saja yang berlaku dalam syariat Islam berlaku pula dalam thariqat. Hal itu pula yang menjadi impian bersama dikalangan pengamal thariqat. Terlukis melalui do’a yang selalu diamalkan:
Allahumma Innâ nasaluka taubatan wa inâbatan wa istiqâmatan ‘ala syarî’atil gharrâ-i wa thriqatil baidhâ-i bi rahma tika yâ arhamar râhimîn. “Ya Allah, sesungguhnya kami bermohon kepada-Mu taubat, inabah dan istiqomah pada syariat yang benar dan pada thariqat yang putih bersih (murni) berkat rahmat-Mu Wahai Sang Maha Pengasih.”
Pengamal thariqat juga wajib menjunjung tinggi akhlakul karimah yang merupakan bahagian tak terpisahkan dalam Islam. Menegakkan akhlak merupakan misi diutusnya Rasulullah SAW. Sabda beliau:
Innamâ bu’itstu liutammima makarimal akhlâq.Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al-Baihaqi, Al-Hakim, dan Ahmad).
Artinya, seorang pengamal thariqat idealnya tidak suka membuka aib saudaranya. Seorang pengamal thariqat yang baik tidak akan mencederai janjinya, tidak suka membicarakan orang lain apalagi yang dibicarakannya itu belum tentu benar. Seorang pengamal thariqat yang baik tidak suka marah-marah dan tidak suka memelihara kebencian. Seorang pengamal thariqat yang baik tidak akan curang dalam berbisnis, tidak suka mengurangi timbangan, tidak suka berbohong dan menipu. Tentulah, seorang pengamal thariqat yang baik akan selalu tersenyum, selalu menghargai orang lain, selalu mengakui kelebihan orang lain, selalu menyayangi saudaranya, selalu berupaya untuk memberi panutan, selalu mampu bekerjasama dengan baik dan hal-hal lain seperti dicontohkan Rasulullah.
Akhirnya, mari kita renungkan bersama doa yang selalu menghiasi hari-hari kita, yaitu:
Tuhanku, hanya Engkau yang kutuju dan hanya ridha-Mu yang kucari”
Pertanyaannya; Mungkinkah Allah ridha kalau kita melanggar perintah-Nya seperti shalat, puasa, haji, dan lain-lain?, mungkinkah Allah ridha kalau kita mengerjakan larangan-Nya seperti zina, judi, minum minuman keras, dan lain-lain?, mungkinkah Allah ridha kalau kita mengabaikan akhlak yang telah ditetapkan Allah & Rasul-Nya?, Mungkinkah Allah ridha kalau kita tetap berkubang dalam gunjing, iri, dengki, fitnah, dusta, dendam, malas, kumuh, padahal semua itu dilarang keras oleh Allah dan Rasul-Nya?, mungkinkah Allah ridha kalau kita tetap sombong, padahal Dia melalui Nabi-Nya telah menegaskan bahwa orang yang dalam hatinya ada kesombongan meskipun sebesar biji dzarrah tidak akan masuk sorga?
Tentu seorang pengamal thariqat yang baik tidak mungkin mengabaikan Fiqih dan mengabaikan akhlakul karimah. Apabila hal ini terwujud maka sudah bisa dipastikan thariqat akan menghantarkan para pengamalnya kepada keridhaan Allah SWT yang berbuah surga, kebahagiaan di dunia, kebahagiaan di akhirat dan dijauhkan dari siksaan api neraka.
Wallahua’lam
