Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS: Ali Imron, 3:159).
Rasulullah mampu mengendalikan dan memimpin tutur katanya, sehingga tidak pernah beliau berbicara kecuali kata-kata yang benar, indah, dan padat makna. Bagaimana dengan kita yang senang membicarakan keburukan orang lain, senang mengkritik tapi tidak memberikan solusi. Rasulullah juga mampu memimpin keinginannya, begitu pula mengendalikan hawa nafsu dan amarahnya. Sehingga beliau mampu memimpin dirinya sendiri dan mudah memimpin orang lain. Sungguh sayang beribu sayang kalau kita justru sangat mudah marah dan hobby menyalahkan orang lain baik dalam pergaulan keseharian ataupun saat kita bertugas memimpin baik dalam lingkup kecil maupun besar. Itulah yang menyebabkan seorang manusia menjadi hina terlebih di hadapan Tuhan karena tidak sanggup mengendalikan emosi dan hawa nafsu.
”Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS: Al-Furqon,25: 23-24)
Marah adalah salah satu bentuk emosi negatif. Disebut negatif bukan saja karena emosi ini sering melahirkan tindakan agresi atau kekerasan, melainkan juga karena adanya rasa tidak senang dalam diri orang yang mengalaminya. Marah merupakan emosi yang memiliki daya dorong sangat kuat untuk bertindak sesuai dengan emosi tersebut, yakni tindakan agresif. Oleh sebab itu, perlu keterampilan untuk mengelola marah agar tidak berdampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam kehidupan ini banyak orang yang selalu tidak bisa menguasai dirinya mungkin termasuk kita sendiri. Sebentar sebentar marah. Lalu lintas macet, marah. Istri kurang cepat berdandan, marah. BBM naik, marah. Hari hujan, marah. Hari terik panas, marah. Tidak dikawani, marah. Apapun yang terjadi selalu marah-marah. Sedikit saja ada yang tidak berkenan di hati, langsung naik emosi. Kalaulah setiap hari masih ada marah-marah, sangat mungkin kita perlu terapi.
Kita semua tentu pernah melihat bagaimana seseorang merusak karirnya sendiri karena dia marah-marah kepada rekan-rekannya di kantor atau pada atasan dan clientnya. Kita juga sering mendengar begitu banyak rumah tangga yang belum begitu berhasil karena masalah yang satu ini. Sebetulnya mungkin mereka tidak ingin hal itu terjadi. Namun sifat pemarahnya sudah tidak terkontrol, emosi mereka meledak di tempat dan waktu yang tidak cocok dan berakibat fatal.
Marah-marah adalah penyakit yang berbahaya dan akan menghancurkan sukses yang sedang kita bangun. Sukses di karir, sukses di bisnis, sukses di rumah tangga, sukses dalam pergaulan masyarakat semuanya bisa hancur hanya karena marah-marah yang tidak terkontrol ini.
Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata: Si Fulan marah kepada si Fulanah berilah saya wasiat. Nabi saw bersabda: Janganlah kamu marah, (kemudian) orang itu mengulangi perkataannya beberapa kali. Nabi saw bersabda: Janganlah kamu marah”.
(HR. Bukhari, dari Abu Hurairah).
Dalam riwayat lain, disebutkan hadits dari Ibnu Mas’ud Radliyallahu ‘anhu Rasulullah bersabda : “Siapa yang dikatakan paling kuat diantara kalian? Shahabat menjawab : yaitu diantara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.”
(HR. Muslim)
Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.”
(HR. Ahmad dengan sanad hasan)
Bahkan dalam riwayat lain yang senada Nabi pernah bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan itu dijadikan dari api” (HR. Ahmad, Abu dawud).
Allah telah memberikan betapa banyak kegagalan-kegagalan manusia terdahulu yang diakibatkan oleh marah. Antara lain: kisah Qabil marah pada Habil adiknya yang akan dinikahkan dengan Iklimah, saudari kembarnya yang cantik dan amat dicintainya.
Qabil tidak setuju dengan hukum (undang-undang) pernikahan yang telah ditetapkan Allah pada zamannya. Kemarahan Qabil terhadap Habil memuncak setelah keputusan Allah turun: Habil boleh menikah dengan Iklimah saudari kembarnya Qabil.
Karena dikuasai sifat marah yang bersumber dari nafsu lawwamah, serta merta Qabil membunuh Habil. Sejarah mencatat, peristiwa Qabil dan Habil adalah peristiwa pembunuhan pertama kali di muka bumi. Penyebabnya ialah sifat marah yang tak terkendali.
Masih ingatkah kita tentang Fir’aun? Si Raja lalim itu pernah marah pada anak angkatnya: Nabi Musa AS. Alkisah, ketika Musa masih kecil dan ditimang-timang, tiba-tiba bocah itu menjambak janggut Fir’aun. Tak ayal, amarah sang Raja meluap. Nyaris saja si raja lalim itu membunuh Musa as. Tetapi istrinya melerai dengan bujuk rayu yang menghibur.
Raja Namrud juga pernah marah-marah kepada Nabi Ibrahim as. Pangkal soal, Nabi Ibrahim as memporak-porandakan tuhan-tuhan Namrud yang berbentuk patung-patung. Luapan amarah Namrud dilampiaskan dengan membakar hidup-hidup Ibrahim as. Namun Nabi Ibrahim as diselamatkan oleh Allah dari panas api dan amukan amarah Raja Namrud.
Ketika Muhammad saw memproklamirkan kenabiannya, orang yang pertama kali marah adalah Abu Lahab, pemuka kaum Quraisy yang disegani. Amarah Abu Lahab memuncak setelah mendengar pernyataan keponakannya itu sebagai seorang Rasulullah, yang diutus untuk memperbaiki peradaban manusia yang bobrok. Abu Lahab mendorong kemenakannya itu. Ia amat marah mendengar pernyataan Muhammad saw sebagai “Rasul Akhiruz Zaman”. Bahkan, dengan amarah yang meluap, Abu Lahab bertekad akan selalu menghalang-halangi “Syi’ar Islam”, sampai mati. Sifat dan sikap tersebut yang akhirnya mengundang murka Allah SWT.
Firman-Nya:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. 111:1-5).
Dari kisah-kisah tersebut tentu kita tidak ingin dicatat dalam sejarah dunia ataupun dalam catatan amal kita disisi Allah SWT sebagai orang-orang yang satu golongan dengan Qabil, Fir’aun, Namruz dan Abu Lahab. Na’udzubillah
Sifat pemarah adalah dari setan, dan setan mendapat warisan dari Iblis sang pelopor sifat marah. Iblis pernah bersengketa dengan Allah, pangkal masalahnya ketika Iblis disuruh bersujud sebagai tanda hormat pada Adam AS, namun Iblis menolak. Bahkan marah-marah di hadapan Allah. Alasannya, dirinya lebih mulia dibanding Adam. Adam dicipta Allah dari tanah, sedang ia dari api. Iblis pun berjanji akan menyesatkan Adam as dan anak cucunya sampai hari kiamat. Tentu, ajakan sesat Iblis dan pasukannya takkan mempan bagi manusia yang beramal saleh dan ikhlas karena Allah.
Jelaslah, sifat marah amat berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia. Terutama bagi akidah. Sebab sifat itu dapat menumbuhkan kefasikan, dan perbuatan jahat lainnya. Akibatnya, timbullah bencana yang akan merugikan. Bukan saja bagi orang-orang lain, tapi terutama bagi diri sendiri. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mangajarkan cara-cara menghilangkan kemarahan dan cara menghindari efek negatifnya, diantaranya adalah:
1. Membaca ta’awudz ketika marah.
Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Surod Radliyallahu ‘anhu: “Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan kami sedang duduk di samping Nabi Shalallahu alaihi wasallam . Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan: ‘Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi: Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan nabi? Dia menjawab : Aku ini bukan orang gila.”
2. Dengan duduk
Apabila dengan ta’awudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri.
Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.”
Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.
3. Diam (Tidak bicara)
Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain.
Dalam hadits disebutkan: “Apabila diantara kalian marah maka diamlah.” Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)
4. Berwudlu
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)
Adapun pemicu kemarahan ada empat, barangsiapa yang mampu mengendalikan maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dijaga dari syetan dan diselamatkan dari neraka. Berkata Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah: “Empat hal, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga dari syetan dan diharomkan dari neraka: yaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah.”
Empat hal ini yaitu keinginan, cemas, syahwat dan marah merupakan pemicu seluruh kejelekan dan kejahatan bagi orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya.
5. Memaafkan
Dalam sebuah Firman Allah memberikan arahan kepada Nabi: “Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika berdoa, sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)”. (QS. 68 : 48 )
Maka, sebagai umat Islam, selayaknyalah kita bertauladan pada Rasulullah saw. Kita harus mau memaafkan siapa pun yang berlaku aniaya pada diri kita.
Maka, jika ada amarah terpendam dalam jiwa, hendaknya segera dibersihkan dengan maaf. Jika tidak, amarah itu akan menjadi gumpalan dendam yang berkarat. Jika hati berkarat oleh dendam, maka akan merusak jiwa.
Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa (mampu) menahan marahnya (tatkala timbul marah), Allah akan menahan siksa-Nya.”
Untuk menjadi pribadi muslim sejati, sesuai dengan apa yang digariskan oleh Islam, sudah semestinya kita memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits, juga telah dipraktekkan oleh para Sahabat Nabi maupun salafus shâleh, yaitu pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt dan rasul-Nya. Diantaranya yaitu menghindari dari sifat marah.
Menghilangkan kemarahan dalam diri bukan berarti mengesampingkan ketegasan dalam sebuah sistem dan peraturan. Dengan ungkapan lain, hukum harus ditegakkan namun tidak dengan kemarahan, program harus berjalan namun tidak dengan cacian dan sindiran, target harus tercapai namun tidak melibatkan sumpah serapah dan mengeluarkan nama-nama penghuni kebun binatang, produktifitas harus tetap ditingkatkan namun tidak dengan mata melotot dan mengebrak meja. Pertanyaan yang harus sering kita ulangi untuk diri sendiri ketika dalam sebuah situasi tertentu, adakah kemarahan dalam diri kita? Sehingga kita selalu berupaya sekuat tenaga menjauhkan dari sifat marah. TENTU KITA SEMUANYA dalam hal ini terus belajar. Semoga dengan demikian kita berhasil menjadi umat yang mambawa misi rahmatan lil’alamin (penebar kasih sayang bagi semesta alam). Amin Ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
No Comments on "Belajar Mengendalikan Amarah"