Belajar Mengendalikan Amarah

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS: Ali Imron, 3:159).

Rasulullah mampu mengendalikan dan memimpin tutur katanya, sehingga tidak pernah beliau berbicara kecuali kata-kata yang benar, indah, dan padat makna. Bagaimana dengan kita yang senang membicarakan keburukan orang lain, senang mengkritik tapi tidak memberikan solusi. Rasulullah juga mampu memimpin keinginannya, begitu pula mengendalikan hawa nafsu dan amarahnya. Sehingga beliau mampu memimpin dirinya sendiri dan mudah memimpin orang lain. Sungguh sayang beribu sayang kalau kita justru sangat mudah marah dan hobby menyalahkan orang lain baik dalam pergaulan keseharian ataupun saat kita bertugas memimpin baik dalam lingkup kecil maupun besar. Itulah yang menyebabkan seorang manusia menjadi hina terlebih di hadapan Tuhan karena tidak sanggup mengendalikan emosi dan hawa nafsu.

”Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS: Al-Furqon,25: 23-24)

Marah adalah salah satu bentuk emosi negatif. Disebut negatif bukan saja karena emosi ini sering melahirkan tindakan agresi atau kekerasan, melainkan juga karena adanya rasa tidak senang dalam diri orang yang mengalaminya. Marah merupakan emosi yang memiliki daya dorong sangat kuat untuk bertindak sesuai dengan emosi tersebut, yakni tindakan agresif. Oleh sebab itu, perlu keterampilan untuk mengelola marah agar tidak berdampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam kehidupan ini banyak orang yang selalu tidak bisa menguasai dirinya mungkin termasuk kita sendiri. Sebentar sebentar marah. Lalu lintas macet, marah. Istri kurang cepat berdandan, marah. BBM naik, marah. Hari hujan, marah. Hari terik panas, marah. Tidak dikawani, marah. Apapun yang terjadi selalu marah-marah. Sedikit saja ada yang tidak berkenan di hati, langsung naik emosi. Kalaulah setiap hari masih ada marah-marah, sangat mungkin kita perlu terapi.

Kita semua tentu pernah melihat bagaimana seseorang merusak karirnya sendiri karena dia marah-marah kepada rekan-rekannya di kantor atau pada atasan dan clientnya. Kita juga sering mendengar begitu banyak rumah tangga yang belum begitu berhasil karena masalah yang satu ini. Sebetulnya mungkin mereka tidak ingin hal itu terjadi. Namun sifat pemarahnya sudah tidak terkontrol, emosi mereka meledak di tempat dan waktu yang tidak cocok dan berakibat fatal.

Marah-marah adalah penyakit yang berbahaya dan akan menghancurkan sukses yang sedang kita bangun. Sukses di karir, sukses di bisnis, sukses di rumah tangga, sukses dalam pergaulan masyarakat semuanya bisa hancur hanya karena marah-marah yang tidak terkontrol ini.

Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata: Si Fulan marah kepada si Fulanah berilah saya wasiat. Nabi saw bersabda: Janganlah kamu marah, (kemudian) orang itu mengulangi perkataannya beberapa kali. Nabi saw bersabda: Janganlah kamu marah”.

(HR. Bukhari, dari Abu Hurairah).

Dalam riwayat lain, disebutkan hadits dari Ibnu Mas’ud Radliyallahu ‘anhu Rasulullah bersabda : “Siapa yang dikatakan paling kuat diantara kalian? Shahabat menjawab : yaitu diantara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.”

(HR. Muslim)

Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.”

(HR. Ahmad dengan sanad hasan)

Bahkan dalam riwayat lain yang senada Nabi pernah bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan itu dijadikan dari api” (HR. Ahmad, Abu dawud).

Allah telah memberikan betapa banyak kegagalan-kegagalan manusia terdahulu yang diakibatkan oleh marah. Antara lain: kisah Qabil marah pada Habil adiknya yang akan dinikahkan dengan Iklimah, saudari kembarnya yang cantik dan amat dicintainya.
Qabil tidak setuju dengan hukum (undang-undang) pernikahan yang telah ditetapkan Allah pada zamannya. Kemarahan Qabil terhadap Habil memuncak setelah keputusan Allah turun: Habil boleh menikah dengan Iklimah saudari kembarnya Qabil.

Karena dikuasai sifat marah yang bersumber dari nafsu lawwamah, serta merta Qabil membunuh Habil. Sejarah mencatat, peristiwa Qabil dan Habil adalah peristiwa pembunuhan pertama kali di muka bumi. Penyebabnya ialah sifat marah yang tak terkendali.

Masih ingatkah kita tentang Fir’aun? Si Raja lalim itu pernah marah pada anak angkatnya: Nabi Musa AS. Alkisah, ketika Musa masih kecil dan ditimang-timang, tiba-tiba bocah itu menjambak janggut Fir’aun. Tak ayal, amarah sang Raja meluap. Nyaris saja si raja lalim itu membunuh Musa as. Tetapi istrinya melerai dengan bujuk rayu yang menghibur.

Raja Namrud juga pernah marah-marah kepada Nabi Ibrahim as. Pangkal soal, Nabi Ibrahim as memporak-porandakan tuhan-tuhan Namrud yang berbentuk patung-patung. Luapan amarah Namrud dilampiaskan dengan membakar hidup-hidup Ibrahim as. Namun Nabi Ibrahim as diselamatkan oleh Allah dari panas api dan amukan amarah Raja Namrud.

Ketika Muhammad saw memproklamirkan kenabiannya, orang yang pertama kali marah adalah Abu Lahab, pemuka kaum Quraisy yang disegani. Amarah Abu Lahab memuncak setelah mendengar pernyataan keponakannya itu sebagai seorang Rasulullah, yang diutus untuk memperbaiki peradaban manusia yang bobrok. Abu Lahab mendorong kemenakannya itu. Ia amat marah mendengar pernyataan Muhammad saw sebagai “Rasul Akhiruz Zaman”. Bahkan, dengan amarah yang meluap, Abu Lahab bertekad akan selalu menghalang-halangi “Syi’ar Islam”, sampai mati. Sifat dan sikap tersebut yang akhirnya mengundang murka Allah SWT.

Firman-Nya:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. 111:1-5).

Dari kisah-kisah tersebut tentu kita tidak ingin dicatat dalam sejarah dunia ataupun dalam catatan amal kita disisi Allah SWT sebagai orang-orang yang satu golongan dengan Qabil, Fir’aun, Namruz dan Abu Lahab. Na’udzubillah

Sifat pemarah adalah dari setan, dan setan mendapat warisan dari Iblis sang pelopor sifat marah. Iblis pernah bersengketa dengan Allah, pangkal masalahnya ketika Iblis disuruh bersujud sebagai tanda hormat pada Adam AS, namun Iblis menolak. Bahkan marah-marah di hadapan Allah. Alasannya, dirinya lebih mulia dibanding Adam. Adam dicipta Allah dari tanah, sedang ia dari api. Iblis pun berjanji akan menyesatkan Adam as dan anak cucunya sampai hari kiamat. Tentu, ajakan sesat Iblis dan pasukannya takkan mempan bagi manusia yang beramal saleh dan ikhlas karena Allah.

Jelaslah, sifat marah amat berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia. Terutama bagi akidah. Sebab sifat itu dapat menumbuhkan kefasikan, dan perbuatan jahat lainnya. Akibatnya, timbullah bencana yang akan merugikan. Bukan saja bagi orang-orang lain, tapi terutama bagi diri sendiri. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mangajarkan cara-cara menghilangkan kemarahan dan cara menghindari efek negatifnya, diantaranya adalah:

1. Membaca ta’awudz ketika marah.

Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Surod Radliyallahu ‘anhu: “Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan kami sedang duduk di samping Nabi Shalallahu alaihi wasallam . Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan: ‘Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi: Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan nabi? Dia menjawab : Aku ini bukan orang gila.”

2. Dengan duduk

Apabila dengan ta’awudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri.

Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.”

Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.

3. Diam (Tidak bicara)

Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain.
Dalam hadits disebutkan: “Apabila diantara kalian marah maka diamlah.” Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)

4. Berwudlu

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)
Adapun pemicu kemarahan ada empat, barangsiapa yang mampu mengendalikan maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dijaga dari syetan dan diselamatkan dari neraka.
Berkata Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah: “Empat hal, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga dari syetan dan diharomkan dari neraka: yaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah.”

Empat hal ini yaitu keinginan, cemas, syahwat dan marah merupakan pemicu seluruh kejelekan dan kejahatan bagi orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya.

5. Memaafkan

Dalam sebuah Firman Allah memberikan arahan kepada Nabi: “Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika berdoa, sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)”. (QS. 68 : 48 )

Maka, sebagai umat Islam, selayaknyalah kita bertauladan pada Rasulullah saw. Kita harus mau memaafkan siapa pun yang berlaku aniaya pada diri kita.
Maka, jika ada amarah terpendam dalam jiwa, hendaknya segera dibersihkan dengan maaf. Jika tidak, amarah itu akan menjadi gumpalan dendam yang berkarat. Jika hati berkarat oleh dendam, maka akan merusak jiwa.

Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa (mampu) menahan marahnya (tatkala timbul marah), Allah akan menahan siksa-Nya.”

Untuk menjadi pribadi muslim sejati, sesuai dengan apa yang digariskan oleh Islam, sudah semestinya kita memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits, juga telah dipraktekkan oleh para Sahabat Nabi maupun salafus shâleh, yaitu pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt dan rasul-Nya. Diantaranya yaitu menghindari dari sifat marah.

Menghilangkan kemarahan dalam diri bukan berarti mengesampingkan ketegasan dalam sebuah sistem dan peraturan. Dengan ungkapan lain, hukum harus ditegakkan namun tidak dengan kemarahan, program harus berjalan namun tidak dengan cacian dan sindiran, target harus tercapai namun tidak melibatkan sumpah serapah dan mengeluarkan nama-nama penghuni kebun binatang, produktifitas harus tetap ditingkatkan namun tidak dengan mata melotot dan mengebrak meja. Pertanyaan yang harus sering kita ulangi untuk diri sendiri ketika dalam sebuah situasi tertentu, adakah kemarahan dalam diri kita? Sehingga kita selalu berupaya sekuat tenaga menjauhkan dari sifat marah. TENTU KITA SEMUANYA dalam hal ini terus belajar. Semoga dengan demikian kita berhasil menjadi umat yang mambawa misi rahmatan lil’alamin (penebar kasih sayang bagi semesta alam). Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Continue reading

Orang Baik Pasti Produktif

Atmosfir syukur dan suka cita idealnya adalah berbanding lurus dengan produktivitas yang terus meningkat. Dalam upaya menyampaikan pemahaman tersebut, YM Abu mengadakan kegiatan Talk Show yang diberi nama Wawancara Leadership pada hari Sabtu, 25 April 2009 di ruang Multimedia gedung E Kampus Panca Budi Medan. Sebagai narasumber adalah Kak Hj. Suzie Ayesa yang lebih dikenal dengan sapaan Kak Uji. Beliau adalah pengusaha Shopie Martin yang memiliki 9 karyawan. Selain diikuti oleh rektor UNPAB, Inspektur Perguruan Panca Budi, para pimpinan Kampus Darul Amin, para pengusaha dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lombok, wawancara tersebut juga dihadiri oleh Psikolog Nasional dari Universitas Indonesi yaitu Ab. Hanna Djumhanna Bastaman Psi dari Jakarta beserta Isteri yang biasa di sapa Kak Tutun yang juga seorang psikolog ternama.

Jika menonton program talk show Kick Andy di Metro TV maka perhatian dan ingatan kita dapat dipastikan langsung tertuju kepada jurnalis dan wartawan senior Andy F. Noya yang berperan sebagai host pada talk show pemenang Award tersebut. Nah, peran YM Abu pada Talk Show Leadership yang berdurasi sekitar 1 jam tersebut ibarat “Andy F. Noya”-nya kalau di Kick Andy. Pastilah sudah dapat kita bayangkan suasana yang “segar” namun tetap padat dengan muatan-muatan inti yang inspiratif dan penuh kejutan. Begitulah suasana yang terasa saat berlangsung wawancara yang dihadiri sekitar 30 orang peserta tersebut.

Pertama sekali YM Abu menyampaikan tentang eksistensi sejarah manusia. Bahwa yang membuat sejarah di dunia ini hanyalah beberapa orang seperti Sultan Salahuddin Al-Ayubi, Hitler, Barack Obama, George W. Bush dan tentunya Rasulullah Muhammad SAW. Ada orang-orang yang mengambil keputusan terus diikuti. Ada yang kemudian kepemimpinannya menjadi besar. Contoh lain di Indonesia kita mengenal beberapa nama seperti Jacob Oetama sang pemilik kompas dan gramedia, Dahlan Iskan pemilik Jawa Pos Group, Khairul Tanjung yang sekarang termasuk orang terkaya dan lain-lain.

Sementara di sisi lain YM Abu melihat ada pemilik restoran dengan 10 karyawan namun lama-lama karyawannya berkurang dan akhirnya tingggal dia sendiri sebagai pemilik. Menurut beliau semua persoalan ini ada pada leadership. Ketika ada keherananan mengapa orang bisa sukses luar biasa seperti itu. Atau keheranan tentang kondisi yang sebaliknya, mengapa bisa terjadi. Masalah ini semua adalah persoalan leadership. Sukses tidaknya seseorang terpulang kepada Leadership.

Lebih lanjut YM Abu menjelaskan bahwa jika ingin sukses kita wajib mengikuti pendapat orang sukses. Bagi orang Islam orang sukses tersebut adalah Rasulullah. Menguasai leadersip adalah dengan bersifat seperti Rasulullah. Artinya jika ada orang yang memiliki banyak sifat-sifat seperti Rasulullah maka dapat dipastikan leadership orang tersebut sangat kuat.

Banyak sumber mencatat, ternyata pemimpin-pemimpin besar dunia adalah mereka yang baik hatinya. Sebagai contoh YM Abu pernah membaca tentang seorang Kepala Mapia di Columbia. Dalam setiap aktivitasnya mapia tersebut memiliki kode etik (panduan moral) antara lain yaitu harus jujur, tepati janji, menghormati orang lain, tidak boleh keluarganya selingkuh, selalu sopan dan santun serta selalu kasih sayang kepada orang lain. ”Ini kan kode etik yang bagus banget” sahut beliau. Secara prinsip bisnis mereka haram tapi karakter yang dibagun pimpinannya memiliki nilai-nilai seperti Rasulullah. Sementara di sisi lain banyak di antara kita bisnisnya halal tapi karakternya tidak seperti Rasulullah. Tentu kita setuju yang terbaik adalah yang prilakunya makin dekat dengan Rasulullah. Dengan kata lain, YM Abu berpendapat bahwa leadership maknanya adalah bagaimana menjadi orang baik. ”Kalau sudah baik, maka sudah leadershiplah itu”. Kata beliau menegaskan.

Hal inilah yang menjadi latar belakang mengapa kegiatan ini dilaksanakan. Yaitu kesadaran untuk terus belajar. Untuk mempelajari bagaimana sebuah kepemimpinan itu dijalankan, perlulah wawancara ini. Kita perlu belajar dari orang lain untuk menjembatani pemahaman kita tentang Rasulullah. ”Jadi, jika ingin sukses, belajarlah kepada kak Uji” jelas YM Abu seraya mempersilahkan kepada Kak Uji untuk berbicara dan disambut tepuk tangan oleh audiens.

Kak Uji memiliki metamorfose dalam kepemimpinannya, dahulu dirasakannya cape. Namun setelah banyak mendengarkan arahan YM Abu, sudah dua tahun belakangan ini pola kepemimpinan Kak Uji berubah ke arah pola kepemimpinan Rasulullah. Seperti diketahui bersama, YM Abu telah banyak berbicara tentang hal tersebut kepada pengusaha-pengusaha lain. ”Oleh karena itu saya termasuk calo ledership” kata YM Abu yang disambut tawa audiens.

Pada tahun 2004 Shopie Martin yang dikelola Kak Uji omsetnya menurun drastis sampai mencapai 75%. Ketika itu karyawan yang setia bersama beliau tinggal satu dan Kak Uji berencana menutup usahanya tersebut. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya keputusan untuk menutup Shopie Martin yang dikelolanya dibatalkan. Beliau berniat mencoba merubah pola kepemimpinan ke arah yang mendekati pola bisnis Rasulullah seperti yang sering dibilang-bilang oleh YM Abu.

Sejak saat itu, yang dilakukan Kak Uji adalah mengajak makan-makan karyawan, bukan berbicara tentang teknis pekerjaan di lapangan. Setelah terjadi suasana keterbukaan semua barulah membuat program. Pelajaran yang harus kita dapati dalam kondisi tersebut adalah jika kita ingin karyawan membuat target-target, kita mesti rendah hati dulu sehingga ada ikatan emesional atau ketergantungan hati antara kita dengan karyawan. Atas saran dari YM Abu bahwa kalau kita mau menjadi pemimpin jadikanlah karyawan seperti anak-anak kita. Kalau sudah begitu, tentu yang dilakukan anak-anak kepada orang tuanya adalah curhat tentang pacar, curhat tentang penyakit dan lain lain. Sampai saat sekarang ini menurut pengakuan Kak Uji itulah yang dikerjakannya dan tidak mengerjakan teknis yang lain karena sudah dikerjakan karyawan.

Jika karyawannya ada yang ingin menikah, Kak Uji memberikan arahan artinya akan buka cabang baru. Supaya orang tersebut bisa membuka usahanya sendiri. Caranya dengan mengembangkan potensi dan mencari lokasi usaha sendiri. Kalau belum bisa seperti itu tandanya karyawan tersebut belum bisa diizinkan menikah.

YM Abu mengajukan pertanyaan dengan sebuah simulasi dan contoh kasus, pada suatu hari ada kesalahan bagian keuangan sehingga diketahuai ada uang yang hilang, atau tidak tercatat dalam pembukuan. Bagaimana cara mengatasinya?

Kata Kak Uji, saya akan bilang pada orang tersebut, coba kamu cek terlebih dahulu, saya gak percaya uang itu hilang. Ketika diketahui ternyata uang tersebut benar-benar tidak ketahuan lagi dimana letaknya dan itu merupakan kesalahan karyawan tadi. Komentar Kak Uji hanya begini: ”Ya sudahlah kalau gak dapat lagi dan kalau memang itu benar-benar hilang”

Karena menurut Kak Uji pada mula-mula membuat bisnis dalam forum bersama telah ada komitmen ”ijab kabul” tentang kesepakatan etika dan nilai-nilai yang dianut untuk tidak dilanggar. Itulah terlebih dahulu yang dibangun. Dengan tetap berprasangka baik terkait kasus tersebut, kak Uji tidak percaya dia memakan uang tersebut bahkan beliau beranggapan mungkin saja uang tersebut hilang karena kealfaan.

Dalam kejadian yang sebenarnya, pernah seorang karyawan Kak Uji melaporkan tentang uang Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah) yang dikantongi hilang. Ia datang menghampiri Kak Uji dengan wajah sangat pucat. Beliau tidak minta orang tersebut untuk menggantinya dan tidak ada sangsi apapun. Waktunya makan tetap juga seperti biasa, ikut makan. Karena Kak Uji percaya saja orang tersebut jujur. Namun yang sangat luar biasa menurut kak Uji, dengan menjaga kepercayaan kinerja orang tersebut malah tambah hebat. Hal itu terbukti dengan meningkatnya penjualan yang diluar dugaan. Enam bulan yang lalu tiba-tiba mendapatkan reward karena ada peningkatan income, padahal perasaan kak Uji hanya main-main saja bersama para karyawan. Kemudian sebulan lalu mendapatkan reward lagi dari perusahaan yaitu paket wisata ke Singapura. Gaya sukacita ketika menghadapi keberhasilan maupun ketika menghadapi kegagalan dianut Kak Uji mulai sekitar 2 tahun yang lalu.

Jika uang hilang tersebut kejadiannya 2 tahun yang lalu mungkin cara mengatasinya akan berbeda. Misalnya dengan dipanggil, diminta agar membayar dengan potongan gaji perbulannya, kemudian dimarahi dan dipindahkan ke bagian yang bukan mengurusi keuangan. Namun dengan gaya baru ini terjadi perubahan pada diri Kak Uji dalam bereaksi akibatnya karyawan menjadi tambah betul-betul bekerja karena adanya sebuah atmosfir kekeluargaan. Terkait hal tersebut, Kak Uji menunjuk salah satu karyawannya untuk benar-benar mengawal atmosfere agar suasana enak tetap tetap terjaga, kepadanya diberikan kewenangan yang tidak terlalu banyak bersentuhan dengan teknis.

Orang tersebut sering diikutkan training-training dengan tema yang berbeda-beda agar dia bisa menularkan kepada karyawan lain. Inilah kepemimpinan tanpa kebun binatang. Memang pada fase sebelumnya kak Uji juga tidak menganut kepemimpinan kebun binatang tapi menurut pengakuannya beliau menganut kepemimpinan ”jeruk purut” alias merengut. Tetapi sekarang suasana berbeda dan tentu lebih menyenangkan, hanya meminta kepada karyawan, ”bekerjalah kalian tapi rasakan ini seperti main-main” katanya sambil tersenyum.

Luar biasa, untuk mengawal atmosfir saja diberdayakan sebagain dari karyawan tidak dilakukan sendiri oleh Kak Uji.

Mengomentari tentang training YM Abu bercerita tentang filosofi ”mengasah gergaji”. Yang intinya menegaskan kembali bahwa forum training dan silaturrahim termasuk kegiatan wawancara kali ini adalah kegiatan untuk menajamkan ”gergaji” agar kita dapat mencapai target dengan cepat dan tepat seperti yang diinginkan.

Menanggapi pertanyaan Bang Isa tentang pilihan mana yang diambil apabila ada orang yang bodoh dari sisi skill tapi berkarakter baik atau orang yang tidak baik attitudenya tapi memiliki keahlian yang sangat bisa diandalkan. Kak Uji bercerita tentang pengalaman bekerjasama dengan oarang yang cukup ahli di bidang perencanan dan event-event dengan ide-ide yang luar biasa hebat hingga membuat beliau tertarik.

Setelah dicoba masuk dua minggu orang tersebut akhirnya keluar dengan sendirinya karena merasakan kimia yang tidak cocok. Memang dia punya karakter tidak bisa di situ.

Untuk pertanyaan sampai berapa kali kesempatan kita bisa berikan kepada orang yang sangat baik tapi tidak dapat meningkatkan produktivitas sama sekali Kak Uji menjawab bahwa sampai saat sekarang beliau memiliki seorang karyawan yang tidak begitu pintar namun dikenal jujur dan rajin. Setor ke Bank jangan diharap data terisi dengan benar.

Nampaknya dia cocok menjadi bagian pengantar barang ke pelanggan. Dia memiliki etos kerja yang lebih dari yang lain. Walaupun jam kerja yang ditentukan adalah mulai jam delapan pagi sampai jam lima sore namun hingga jam sebelas malam dia tetap bekerja, dia bilang ”masih kuat kok” kata kak Uji menirukan. Orang tersebut lugu dan tidak tahu bekerja sudah lembur dan sebagainya.

YM Abu menyatakan Apabila ada orang baik mestinya dia itu produktif. Tidak ada orang baik yang tidak produktif. Masalahnya tergantung kepada pimpinan yang meletakan dia di mana. Kebalikannya jika ada orang baik tapi dia tidak produktif sebenarnya orang tersebut belum baik. Dia menjadi sebuah kejahatan bila pimpinannya tidak berhasil menempatkan di tempat yang tepat.

Tapi memang ada orang yang betul-betul jahat. Masalahnya kita selalu terlalu cepat menyatakan seseorang itu tidak baik karena terbelenggu pada pemahaman bahwa yang dimaksud orang baik adalah orang yang memiliki tata krama dan sopan santun sedangkan yang tidak memiliki tatak rama dan sopan satun itu tidak baik. Padahal tatakrama dan sopan santun merupakan salah satu bagian dari banyak hal kebaikan. Lantas kebaikan lain itu apa saja? Yaitu tidak pemarah, tidak tinggi hati dan sebagainya. Seharusnya kita tidak terlalu mempersempit kebaikan hanya sebatas tatakrama dan sopan santun.

Jika yang dimaksud dalam pertanyaan tersebut adalah orang yang memiliki tatakrama dan sopan santun tapi tidak bisa bekerjasama dalam tim dan tidak bisa diberi nasehati. Tidaklah yang demikian itu termasuk kategori orang baik, bahkan sebaliknya itu namanya orang sombong yang memiliki tatakrama yang baik.

Pada fase kepemimpinan yang baru ini, YM Abu melihat kak Uji sekarang sedang ”kebingungan” dalam arti yang positif, melihat timnya yang luar biasa produktif, nyaman banget, kerjanya tidak ada dan untungnya banyak. Sedangkan dua tahun yang lalu capenya bukan main, ngamuk-ngamuk aja dan tidak ada untungnya.

Ketika YM Abu bertanya: ”Apa yang Uji lakukan hingga bisa seperti ini?”. Jawabannya adalah ”Aku tidak tahu” Tapi ketika ditanya: ”Benarkah kerjaan pemimpin itu seperti Tukul saja, untuk membuat suasana gembira? Kemudian seperti Cheerleaders?” Maka jawaban kak Uji ”Yah seperti itulah kira-kira yang dikerjakannya.”

Pada banyak kesempatan kak Uji selalu memulai komunikasi dengan karyawannya dengan cerita lucu. Salah satunya cerita tentang ”Berat Bersih 20 kilogram”. Dalam wawancara tersebut YM Abu meminta kak Uji menceritakan kembali apa yang telah diceritakannya pada karyawan agar bisa didengar oleh audiens yang hadir di ruang Multimedia tersebut. Dengan semangat dan gembira kak Uji pun bersedia mencerikatan kembali detail cerita lucu tersebut. Ketika cerita berakhir, kontan audiens pun gerrr bergelak tawa serta menyambut dengan tepuk tangan.

Kak Uji memiliki pengalaman lain soal atmosfir, suatu saat salah seorang keryawan beliau yang baru 6 bulan bekerja dengan gaji yang biasa-biasa saja melaporkan tawaran pindah kerja dari stokist Sophie Martin lain dengan iming-iming gaji yang lebih besar dua kali lipat. Tapi dia menolak dengan alasan karena yang dirasakannya sudah enak bekerja dengan Kak Uji. ”bukan karena berat bersih kan?” seloroh YM Abu menimpali Kak Uji yang disambut tawa audiens. Yang pasti, ”Kalaulah nanti saya pindah ke tempat baru tersebut, pimpinannya belum tentu tahu dan mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya” sahut beliau menirukan. Karena memang selama bersama Kak uji orang tersebut sangat akrab dan sering curhat tentang masalah pribadi juga termasuk masalah dalam rumah tangganya. Nah, kalaulah nanti jadi pindah, karyawan tersebut khawatir pimpinan barunya tidak bisa membantu mengatasi persoalan-persoalan itu. Fenomena ini membuktikan kepada kita bahwa uang bukanlah menjadi ukuran dan bukanlah segalanya untuk sebuah kesuksesan.

Ketika ditanya seberapa penting menjaga suasana hati (atmosphere) dalam sebuah tim bisnis, kak Uji menegaskan bahwa hal tersebut sangat penting dilakukan, tingkat kepentingannya adalah 100%. Hal itu dimaksudkan agar tercipta suasana yang jauh dari konflik. Bisnis adalah tentang persahabatan sisanya “main-main”.

YM Abu menggarisbawahi dengan ungkapan: “Kalau mau berbisnis 1 tahun binalah skill, kalau mau berbisnis 20 tahun binalah tim dan kalau mau berbisnis selamanya binalah persahabatan”. Dengan kata lain dapat kita artikan bahwa jika ingin sukses berbisnis untuk selama-lamanya kuncinya hanya satu yaitu mempertahankan persaudaraan dan persahabatan. Tentu saja jika nuansa persahabatan tidak tercapai akan membuat bisnis tersebut segera berakhir. Jika hal tersebut sebagai tugas utama seorang pemimpin, maka tidak ada kepayahan dalam bidang teknis dan komunikasi.

Mengomentari kepemimpinan Kak Uji, Psikolog Kak Tutun mengatakan bahwa tugas seorang pemimpin adalah membangun relationship atau jaringan persahabatan. Dalam bahasa agama istilah tersebut dikenal dengan nama silaturrahim. Itulah yang telah dilakukan oleh Kak Uji walaupun kak Uji sendiri belum mengetahui istilah dan teorinya dalam ilmu psikologi, tapi hal tersebut telah dilakukan beliau. ”Artinya, agar sukses dalam memimpin bangunlah hubungan” papar isteri Bang Hanna ini menjelaskan. Dalam bahasa seloroh: Bangunlah hubungan walau pun tanpa “berat bersih” (baca: he he he).

YM Abu menegaskan kembali bahwa di dalam naungan yayasan ini yang akan kita tegakan adalah kepemimpinan gaya Rasulullah. Mungkin saja saat ini ada orang-orang yang memiliki gaya kepemimpinan sendiri misalnya dengan gaya intimidasi, itu yang dihindari. Karena jelas kita sebagai muslim dan sebagai umat nabi Muhammad, tentu gaya kepemimpinan kita wajib menganut gaya kepemimpinan Rasulullah. Inilah yang perlu kita sampaikan kepada para pimpinan puncak sampai dengan pimpinan paling bawah. Pemimpin adalah setiap orang yang memiliki “anak buah” walaupun hanya satu atau dua orang.

Lebih lanjut YM Abu menerangkan bahwa yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan Rasulullah tersebut adalah membangun hubungan dan tanpa kebun binatang. Kesalahan harus diperbaiki tapi tanpa melecehkan harga diri orang lain, tanpa membuka aib orang lain, tanpa curiga terhadap orang lain. Ada sebuah kebiasaan yang keliru yaitu merasa gembira bukan main jika menemukan bukti tentang kebodohan orang lain dan mengetahui kesalahan orang lain. Tentu itu bukan gaya kepemimpinan Rasulullah. Sebagai contoh jika ada proposal dari seorang anak buah kemudian masih ditemukan hal yang tidak sempurna, mari perbaiki bersama, disempurnakan dan dilengkapi. Hindari perkataan-perkataan negatif. Umpamanya, “masa gini aja gak bisa” kemudian dimarahi berlama-lama terus dirobek-robek pula. Tentu yang kita tegakkan adalah gaya kepemimpinan Rasulullah. Dalam hal mempelajari kepemimpinan Rasulullah tersebut kita perlu orang lain untuk menjembatani pemahaman kita bersama.

YM Abu memiliki sebuah keyakinan bahwa pada saat semua orang berubah menjadi berakhlakul karimah dan kemudian ada nama Allah di kalbunya semua masalah akan selesai. Mereka akan menjadi produktif. Merupakan sebuah malapetaka jika semua orang di Indonesia harus diberi makan, tapi menjadi sebuah karunia jika semua rakyat produktif. Merubah masyarakat thariqat Naqsyabandiyah menjadi tenaga yang produktif bahkan menjadi lokomotif bangsa ini adalah dengan akhlakul karimah yang di dalamnya ada kepemimpinan. Pada saat semua sudah bisa menjadi “Raja Midas” mereka akan bisa menciptakan emas-emasnya sendiri. Salah satu caranya adalah dengan mengenalkan pola-pola kepemimpinan seperti ini. Kak Uji pun menyebutkan nama salah seorang mantan anshor Panca Budi binaan beliau yang sekarang dinilai sudah bisa menciptakan emasnya sendiri, sebagai contoh

Sebelum acara ini ditutup, Kak Tutun kembali berkomentar tentang apa yang dilakukan kak Uji dengan tetap “pasang badan” ketika seorang pelanggan datang complaint dan marah-marah akibat dari kesalahan timnya. Dalam istilah kepemimpinan sikap itu disebut responsible (tanggung jawab), tidak melempar kepada pelaku tapi mengambil kesalahan itu sebagai tanggung jawabnya sebagai pimpinan. Itu merupakan syarat lain bagi seorang pemimpin, karena seorang pemimpin harus bertanggung jawab. Selain itu Kak Tutun menambahkan, ketika kak uji menugaskan salah seorang dalam tim tersebut untuk menjaga atmosfir dan mengikuti pelatihan-pelatihan, hal demikian itu disebut dengan memberdayakan timnya. Seoarang pemimpin harus mampu memberdayakan orang-orang yang berada dalam timnya.

Bang Hanna menambahkan komentarnya bahwa dalam teori kepemimpinan ada aspek orientasi produktiv dan orientasi relationship. Itu dua-duanya sangat perlu. Akan terjadi kesuksesan jika kedua hal tersebut sama-sama meningkat. Yang lebih sulit dibentuk adalah keterampilan relationship, karena untuk aspek produktiv banyak sekolahnya. Ketika ada pertanyaan mana yang lebih penting IQ atau EQ nya, tentu dua-duanya penting hanya saja yang membutuhkan banyak perjuangan untuk dibentuk adalah EQ-nya atau karakternya.

Secara implisit kak uji menganut perlunya pelatihan-pelatihan keahlian dan proffesional karena karakter yang baik tanpa proffesional menjadi orang yang baik tapi tidak berdaya tapi sebaliknya orang yang pinter dan proffesional dengan karakter yang buruk itu adalah arogan. Di sinilah pentingnya akhlakul karimah dalam sebuah tim dan kepemimpinan. Dan akhlakul karimah telah menjadi kultur bisnis yang diterapkan para proffesional sekarang ini. Mengingat pengalaman pahit hancurnya para pebisnis internasional yang disebabkan oleh character yang buruk. Maka dunia bisnis internasional memunculkan motto kerja ”Character First” yang artinya dahulukanlah akhlak.

Sebagai penutup, YM Abu menegaskan bahwa demi mencapai kesuksesan kita perlu berdo’a dulu, dengan doa akan menimbulkan sebuah optimisme dan keyakinan bahwa Tuhan itu sayang kepada kita, approach-nya hanya main-main karena telah ada Tuhan di atas sana yang akan memberikan decision. Jika Tuhan berkehendak untuk terjadi maka akan diinspirasikannya kepada manusia untuk membuatnya itu terjadi. Kemudian kita bersyukur, sukacita dan berakhlak. Tuhan menginginkan kita berlaku seperti kesasih-Nya yaitu Muhammad SAW. Jika semuanya dijalankan maka itu sudah selesai.

Setelah ditutup salam audiens pun bertepuk tangan. Kemudian menikmati hidangan snack yang dilanjutkan dengan shalat Ashar dan khatam berjama’ah.

Continue reading

prev posts prev posts
?>